Eco Harmony Foundation Kritik PT ARA: KTT Dinilai Tidak Kooperatif Tangani Pencemaran Sedimentasi
Wasile, Exposedaily.id – EcoHarmony Foundation menilai Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Alam Raya Abadi (PT ARA) Site Subaim tidak menunjukkan sikap kooperatif dan bijak dalam merespons persoalan dugaan pencemaran sedimentasi di wilayah perkebunan, pertanian, dan pesisir Kecamatan Wasile Induk, Halmahera Timur.
Penilaian ini muncul setelah pernyataan KTT PT ARA, Onal, yang menyebut bahwa tumpahan sedimentasi di area warga sepenuhnya disebabkan oleh aktivitas operasi PT Jaya Abadi Semesta (PT JAS) dan bukan berasal dari kegiatan PT ARA.
Koordinator Umum EcoHarmony Foundation, Arjun Onga, menilai pernyataan tersebut berlebihan dan berpotensi menyesatkan publik. Ia menegaskan, posisi aktivitas produksi PT ARA yang berada di kawasan dengan topografi ketinggian secara teknis justru memiliki potensi besar mendorong aliran limbah sedimentasi ke wilayah hilir yang dihuni masyarakat.
“Kapasitas KTT itu setara dengan manajer proyek yang bekerja atas nama perusahaan dan membawa citra perusahaan. Karena itu kami sangat menyayangkan sikap KTT PT ARA Site Subaim yang justru menyudutkan perusahaan lain dan seolah ingin lepas tanggung jawab,” tegas Arjun.
Arjun menambahkan, pernyataan KTT yang langsung mengkaitkan seluruh tumpahan sedimentasi dengan PT JAS tanpa membuka ruang evaluasi menyeluruh dinilai tidak elok dan tidak mencerminkan tanggung jawab korporasi.
Lebih jauh, Arjun menjelaskan bahwa praktik penambangan yang memenuhi standar semestinya dilengkapi dengan sediment pond dan tanggul penangkis yang memadai untuk menahan aliran limbah, terlebih pada penambangan di area perbukitan dan ketinggian.
Menurutnya, kondisi lapangan yang menunjukkan sebaran sedimentasi hingga ke lahan pertanian, kebun warga, dan kawasan pesisir menjadi indikasi adanya persoalan serius dalam pengelolaan lingkungan.
“Kondisi di lapangan yang memperlihatkan sebaran sedimentasi sampai ke ladang, kebun, dan pesisir membuktikan adanya persoalan serius yang tidak bisa ditutup-tutupi,” ujarnya.
Arjun juga mengkritik kualitas manajerial KTT PT ARA dalam merespons situasi ini.
“Kalau kualitas SDM KTT PT ARA seperti ini defensif, tidak kooperatif, dan tidak transparan maka kita sulit berharap penanganan lingkungan yang lebih baik. Masyarakat butuh solusi, bukan saling menyalahkan,” tambahnya.
EcoHarmony Foundation menegaskan, warga di sekitar wilayah terdampak membutuhkan respons cepat dari PT ARA berupa langkah nyata di lokasi, bukan sekadar klarifikasi yang menyalahkan pihak lain.
Setidaknya, menurut Arjun, terdapat tiga poin mendesak yang harus segera dilakukan perusahaan:
- Mitigasi darurat untuk mencegah meluasnya sebaran sedimentasi.
- Pencegahan lanjutan melalui pembenahan infrastruktur pengendali limbah, termasuk sediment pond dan tanggul penangkis.
- Penanganan area terdampak, mencakup pemulihan lahan pertanian, kebun warga, serta kawasan pesisir yang terkena sedimentasi.
“Warga tidak butuh polemik, masyarakat butuh kepastian penanganan. Perusahaan harus bertindak cepat untuk memulihkan kondisi lingkungan dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat,” tutup Arjun.
EcoHarmony Foundation menyatakan akan menyusun dan mengirimkan laporan resmi kepada Pemerintah Daerah Halmahera Timur, Dinas ESDM, serta instansi teknis terkait lainnya apabila dalam waktu dekat tidak terdapat progres penanganan yang nyata dari PT ARA di lapangan.
Laporan tersebut diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan investigasi lebih lanjut dan memastikan adanya langkah pemulihan lingkungan serta penegakan tanggung jawab perusahaan tambang di wilayah Wasile Induk.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now














