Perlindungan Inklusif BPJS Ketenagakerjaan: Harapan Pekerja di Pelosok Indonesia
Halteng, Exposedaily.id – Pukul enam pagi, alarm berbunyi membangunkan Wahid Kiha dari tidurnya. Pria berusia 38 tahun itu bergegas mandi dan sarapan seadanya sebelum berangkat ke lokasi kerja. Sebagai petugas keamanan PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT.IWIP) di Halmahera Tengah, hari-harinya dihabiskan menjaga kawasan industri nikel terbesar Indonesia.
Tapi ada yang berbeda dari rutinitas Wahid hari ini dibanding beberapa tahun lalu. Kini, ia bekerja dengan perasaan lebih tenang. Kepesertaannya dalam program BPJS Ketenagakerjaan memberikan rasa aman yang dulu tak pernah ia rasakan.
“Kalau dulu itu takut, Pak. Kerja jadi satpam di kawasan industri sebesar ini, risikonya juga ada. Kalau kenapa-kenapa saat bertugas, siapa yang tanggung? Istri dan anak saya di kampung pasti panik. Sekarang beda, ada BPJS Ketenagakerjaan. Keluarga saya juga jadi tenang,” cerita Wahid ketika ditemui di pos keamanan tempat ia bertugas, Selasa (26/11/2025).
Wahid bukan satu-satunya yang merasakan manfaat perlindungan pekerja ini. Ratusan kilometer dari Halmahera, Afriski Marwan yang bekerja di PT. Jaya Abadi Semesta (PT.JAS) punya cerita serupa. Bagi Afriski, BPJS Ketenagakerjaan bukan cuma soal kartu dan administrasi Perusahaan ini tentang masa depan yang lebih pasti.
Ketika Inklusivitas Bukan Sekadar Slogan
Program BPJS Ketenagakerjaan membuktikan bahwa inklusivitas bisa diterapkan secara nyata, tidak peduli seberapa jauh lokasi perusahaan dari pusat kota atau apa posisi pekerja di perusahaan tersebut. Wahid yang bekerja sebagai security di kawasan terpencil Halmahera Tengah mendapat akses perlindungan yang sama dengan pekerja lain, tanpa diskriminasi.
“Waktu awal masuk kerja sebagai satpam, perusahaan langsung urus semua kepesertaan. Ada sosialisasi juga tentang program-programnya: jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, sama jaminan pensiun. Lengkap. Nggak ada bedanya sama posisi lain,” jelas Wahid sambil mengingat-ingat masa orientasi kerjanya dulu.
Bagi Wahid, jaminan ini sangat penting mengingat risiko pekerjaannya. Sebagai petugas keamanan, ia bertugas mengamankan kawasan industri seluas ratusan hektar, melakukan patroli rutin, dan menghadapi berbagai kemungkinan situasi darurat.
Afriski menambahkan bahwa perlindungan ini berdampak langsung pada performa kerja. “Jujur aja, kalau pikiran kita tenang, kerja jadi lebih fokus. Gak mikirin ‘gimana kalau sakit’ atau ‘gimana kalau kecelakaan’. Semua udah ada jaminannya,” ujarnya dengan nada lega.
Dari Sekadar Hak di Atas Kertas Jadi Kenyataan
Yang membuat program ini berbeda adalah implementasinya yang benar-benar berjalan. Empat jaminan yang ditawarkan kecelakaan kerja, kematian, hari tua, dan pension bukan cuma angka-angka dalam brosur. Wahid membuktikannya sendiri.
Tahun lalu, ia mengalami kecelakaan saat bertugas. Dalam patroli malam di area konstruksi, kakinya terpeleset dan terkilir cukup parah. “Waktu itu panik juga. Rasa sakitnya luar biasa, sampai nggak bisa jalan. Tapi rekan-rekan langsung tanggap, bawa saya ke klinik perusahaan. Ternyata harus dirujuk ke rumah sakit karena perlu penanganan lebih intensif,” kenang Wahid.
Yang membuatnya lega, seluruh biaya pengobatan ditanggung melalui jaminan kecelakaan kerja. Tidak ada potongan gaji, tidak ada biaya tambahan yang harus ia keluarkan dari kantong sendiri. “Proses klaimnya juga lancar. Tinggal ikuti prosedur, selesai. Ini yang bikin saya makin percaya, program ini bukan omong kosong,” tegasnya.
Pengalaman itu mengubah pandangan Wahid sepenuhnya. Sebagai petugas keamanan yang setiap hari menghadapi risiko, mengetahui ada jaminan yang benar-benar berfungsi membuat ia bekerja dengan lebih percaya diri.
Menabung untuk Hari Tua Tanpa Terasa
Selain perlindungan dari risiko kerja, BPJS Ketenagakerjaan juga mempersiapkan masa depan pekerja melalui Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun. Setiap bulan, sebagian gaji pekerja dipotong untuk program ini sesuatu yang awalnya sempat membuat Afriski agak keberatan.
“Awalnya mikir, ‘Wah, gaji dipotong lagi nih.’ Tapi setelah paham sistemnya, ya ini bagus sebenarnya. Kita dipaksa nabung untuk masa tua. Kalau nggak dipaksa, mana ada kita sisihkan,” akunya sambil tertawa kecil.
Wahid yang kini menginjak usia menjelang 40 tahun mulai memikirkan masa pensiunnya. “Kerja jadi satpam itu butuh fisik yang prima. Nanti kalau sudah tua, pasti nggak kuat lagi patroli keliling area. Makanya saya syukur ada program JHT dan pensiun ini. Setidaknya nanti ada bekal,” katanya.
Afriski membayangkan dirinya 20-30 tahun ke depan. Ketika sudah tidak produktif lagi, ketika tenaga sudah tidak sekuat sekarang, dana JHT dan pensiun itu akan menjadi penyelamat. “Nanti pas udah pensiun, kan ada duit yang bisa dipakai. Nggak mau dong jadi beban anak-anak,” katanya.
Mekanisme ini memastikan bahwa produktivitas hari ini tidak dibayar dengan kesulitan di masa depan. Pekerja membangun fondasi keuangan secara bertahap, tanpa terasa, lewat iuran bulanan.
Masih Ada PR yang Harus Dikerjakan
Meski mengapresiasi program BPJS Ketenagakerjaan, baik Wahid maupun Afriski masih melihat ada yang bisa diperbaiki. Wahid mengamati bahwa tidak semua rekan sesama petugas keamanan memahami betul program yang mereka ikuti.
“Banyak teman satpam yang tahunya cuma ada BPJS Ketenagakerjaan, tapi detailnya nggak ngerti. Manfaatnya apa, prosedur klaimnya gimana, itu masih banyak yang bingung. Harusnya sosialisasi lebih sering, terutama buat pekerja baru,” sarannya.
Afriski menambahkan soal kemudahan akses, terutama untuk pekerja di daerah. “Kalau bisa, proses administrasinya disederhanakan. Soalnya tidak semua orang familiar dengan sistem online atau pengurusan dokumen yang ribet,” jelasnya.
Ada satu harapan besar yang sama-sama mereka sampaikan: perluasan cakupan. Indonesia punya jutaan pekerja informal pedagang kaki lima, tukang ojek, buruh harian yang juga butuh perlindungan serupa.
“Seharusnya semua pekerja dapat perlindungan, nggak cuma yang di perusahaan besar kayak kami. Security outsourcing, tukang ojek, pedagang, buruh harian lepas, mereka juga butuh jaminan. Risikonya malah kadang lebih besar,” kata Wahid dengan nada serius.
Membangun Indonesia dari Perlindungan Pekerja
Ketika sore menjelang dan shift jaga Wahid berakhir, ia pulang dengan perasaan berbeda dari bertahun-tahun lalu. Ada rasa aman, ada kepastian, ada harapan untuk masa depan yang lebih baik—bukan hanya untuknya, tapi juga untuk keluarganya.
Kisah Wahid dan Afriski adalah potret jutaan pekerja Indonesia yang hidupnya tersentuh oleh program perlindungan pekerja. Dari ujung timur di Halmahera hingga berbagai penjuru nusantara, BPJS Ketenagakerjaan berupaya memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal termasuk mereka yang bekerja di posisi yang sering dianggap ‘kecil’ seperti security.
Perlindungan inklusif bukan lagi sekadar jargon kampanye atau slogan di spanduk. Ini adalah praktik nyata yang terus diperbaiki dan diperluas. Setiap pekerja tanpa memandang di mana mereka bekerja, posisi apa yang mereka jabat, atau apa jenis pekerjaannya punya hak yang sama untuk mendapat jaminan keselamatan dan kesejahteraan.
Dan ketika hak-hak pekerja terpenuhi, hasilnya bisa dirasakan semua orang: produktivitas meningkat, ekonomi bergerak, kesejahteraan tersebar lebih merata. Inilah investasi sejati untuk membangun Indonesia yang lebih manusiawi dan berkeadilan dimulai dari melindungi setiap pekerja yang menjadi tulang punggung bangsa.
“Saya berharap program ini terus ada, bahkan makin baik lagi ke depannya. Ini bukan cuma untuk kami yang sekarang kerja, tapi juga buat anak-cucu kami yang nanti akan bekerja juga,” pungkas Wahid sebelum beranjak meninggalkan pos jaga, menuju rumah kontrakan sederhananya di senja hari yang mulai gelap.
Reporter: Yusri Abubakar
Editor: Kader Labiu
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




















